Rabu, 30 Agustus 2017

story about life

                                             apa itu keluarga    

mungkin aku adalah satu dari sebanyak juta umat manusia dimuka bumi ini yang merasa aku kesepian. teman? aku punya keluarga? aku punya. tapi aku merasa aku jauh dari mereka ada jarak diantara kami. aku merasa aku lah yang paling menderita meskipun aku masih dikatakan orang beruntung. Rasanya sulit sekali mengekspresikan apa yang aku rasakan. aku merasa aku di nomor belakangan aku merasa aku tak penting bagi mereka dan itulah yang membuat aku memebrikan jarak diantara mereka. kau pikir aku mau? aku sama sekali tak menginginkan itu.
      Hidupku berantakan aku tak sebahagia apa yang mereka lihat dari lauar, aku kesepian aku menderita aku butuh teman walau hanya utuk mendengarkan ceritaku, aku merasa semua masalah ku tanggung sendiri. kau pikir aku tak berdoa? tak meminta? semua sudah aku lakukan. Mereka bilang jika kita berdoa meminta dan berusaha maka suatu saat akan tercapai, tapi tidak denganku aku merasa semuanya sia-sia. terkadang aku merasa capek jika harus membasahi bantalku dengan air mata, tapi bagaimana lagi, itu satu-satunya agar aku bisa mengeluarkan amarahku.
      aku lahir dari keluarga biasa, dari kalangan menengah, tapi apa salahnya jika berharap dengan cita-cita yg baik. ada hal yang membuatku harus berhenti mengharapkan cita-cita. waktu itu aku lulus SMP dan ingin melanjuutkan ke SMA tapi berbarengan dengan adik yang masuk ke SMP, karena keluarga ku keluarga yang biasa saja maka itu semua berat untuk keluargaku. waktu itu keluargaku sudah berantakan aku termasuk anak yang broken home. kami sulit untuk mendapatkan biaya. tapi kedua orang tuaku berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan kedua anaknya agar masa depan aku dan adiku tidak seburuk orang tuanya. namun ketika orang tuaku terpontang panting mencari hiaya sekolah, keluargaku ada yang menyarankan aku selaku anak pertama berhenti agar tidak melanjutkan sekolah, adiku dulu yang diutamakan. sebenarnya aku sedih mendengar hal itu tapi memang solusi hanya seperti itu. sewaktu ketika aku memberanikan diri untuk bertanya kepada bapakku, apakah aku harus berhenti sekolah, saat itu aku mengatakan dengan nada yang parau karena mataku juga berlinang, aku berusaha menjaganya agar tak mengalir di pipi. tapi jawaban bapaku sangat menyenangkan aku harus tetap lanjut sekolah dan adiku juga harus tetap sekolah.
      waktu itu aku dan adiku sudah duduk di kelas 2 aku SMA dan adiku SMP , dan pada saat itu juga keluarga kami di uji. keluarga kami kekurangan dana untuk persiapan naik kelas 3 untuk aku dan adiku. tapi bapak ku mendengar keluarga ku membicarakan soal itu dan mengatakan bahwa semua itu karna aku, aku yang terlalu tinggi bermimpi, bisa sekolah yang tinggi. aku juga sedih mendenar itu, bukankah harusnya kekuarga saling menguatkan? memberi semangat dan dukungan kenapa mereka malah menjatuhkan? wajar saja aku marah aku kecewa, bahkan kata-kata yang mereka ucapkan masih terngiang dikepalaku hingga sampai sekarang aku masih membencinya. kenapa kalian tidak menamparku saja? kenapa harus memaki keluarga keceilku, mungkin jika mereka menampar aku akan melupakan semua perbuatannya tapi kata-kata sungguh menyakitkan dari pada ditusuk pedang.
 aku merasa sedih aku bingung aku tak bisa menceritakan semua masalahku pada temanku, aku merasa meskipun mereka mau mendengarkan mereka tak akan bisa memberikan solusi dan aku takut hanya akan membuatnya menambah bebean karena mereka juga pasti punya masalah sendiri dalam hidupnya jadi aku hanya diam. semenjak aku punya masalah serumit itu aku menjauhi teman-temanku dikelas aku tak mau mereka menjadi bahan amarahku lebih baik aku menghindar, hingga akirnya aku kesepian dan ada jarak diantara kita, temanku dan keluargaku. kata kata  yang diucapkan  keluargaku  membunuh seketika mimpi-mimpi yang aku bangun dari kecil. teman-temanku yang aku percaya untuk berbagi keluh kesah canda tawa jauh meninggalkanku. kedua orang tuaku yang harunsya aku jadikan tempat cerita senang dan sedih sibuk dengan egonya masing-masing. cinta? aku tak peduli lagi dengan cinta sakit ini membuatku takut akan berteman dengan cinta. mereka bilang broken heart itu menyakitkan, tapi bukan kah broken home lebih menyakitkan?


note: just a story this is not true. saran judul yang bagus dong

Rabu, 10 Mei 2017

Hal Kecil Yang Disebut Cinta

Ini adalah kisah hidupku, kisah hidup yang penuh dengan rasa sakit, pengorbanan, dan kesabaran. Aku dilahirkan di keluarga yang bisa-bisa saja tidak seindah apa yang terlihat dari luar. Bahkan untuk menceritakan yang aku rasakan tak cukup dengan ari mata. Aku tak seberuntung mereka, kadang aku merasa iri dengan mereka yang bahagia menjadi apa yang mereka inginkan tidak seperti aku.
Aku memilik banyak kurangan bahkan bisa disebut aku tak punya kelebihan satupun. Tidak pintar tidak cantik tidak baik dan sangat jauh dari sempura. Hidupku berantakan dari mulai cinta dan keluarga. Kadang ingin sekali aku marah tapi pada siapa orang tua atauTuhan. Aku mecoba selalu bersyukur setiap hari tapi aku gagal dan selalu gagal.
Aku berusia 16 tahun, usia ini lah yang paling labil butuh bimbingan dan arahan, tapi tidak dengan aku. aku menjalani hidupku mengikuti temanku tidak dengan kata hati. Orangtua ku sayang dengan ku segala materi atau material apa yang aku minta terpenuhi tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Entah harus dimulai dri mana aku menceritakan hidupku sangat membuatku tidak bahagia. aku punya banyak teman, mereka nyaman denganku dan begitu puala aku nyaman dengan mereka., tapi entah kenapa aku tidak berani menceritakan semuanya pada merka. Aku punya masalah dengan keluarga ku pun aku tak pernah cerita dan menyukai seorang pun aku tak menceritakan . rasanya sulit untuk mengungkapakan apa yang aku rasakan aku takut membebani mereka.
Semua rasa ini muncul ketika aku kelas 11, Aku suka dengan teman sengkatanku dia memang bukan orang yang terkenal dan juga biasa-biasa saja tapi entah kenapa dia begitu special dimataku. Selalu aku perhatikan ketika dia ada didepan mataku selalu aku ikuti kemana ia akan melangkah namanya Anan itulah yang aku tau.  Kukira ini sebatas suka kupikir besok lusa rasa ini akan hilang tapi entah kenapa rasanya semakin bertambah aku sadar aku cinta bukan sekedar suka. Aku mencari tahu segala sesuatu tentangnya dari hal sekecil apapun, hingga salah satu teman dekatu menyadari bahwa aku suka dengan seseorang, dia namnya Alia. Dia memang bukan teman sebangku tapi dia tahu tentang aku walapun tidak semuanya ia tahu tentang aku karena aku tertutup tentang hal-hal pribadi. Alia sadar aku menyukai sesorang dia tau karena akhir akhir ini aku banyak berubah dari tingkah laku sampai penampilan. Alia memang orang yang pandai tentang cinta tapi tidak denganku aku anak SMA yang tidak tahu apapun tentang cinta dan fashion, namun setalah aku tahu Anan aku berubah dan ternyata Alia menyadarinya.
Sehari setelah Alia tahu perubahanku aku mulai jujur aku suka dengan Anan namun kukira esok lusaa aku akan lupa ternyata tidak. Alia tahu aku tidak berpengalaman dengan urusan cinta ia membantuku untuk mendapatkan anan membantuku dari cara berpenampilan sampai cara untuk dekat dengan Anan. Alia berusaha keras tapi idak denganku aku selalu peisimis tapi Alia selalu meyakinkanku aku bisa dekat dengan Anan. Aku pernah mengatakan aku tak perlu jadi pacarnya dekat dengannya saja aku sudah bahagia tapi Alai selalu memaksaku untuk selalu berusaha. Suatu keteika Anan sedang bermain basket dia bukan pemain basket tapi ia cukup jago aku memperhatikannya dari dekat karena bukan cuma aku yang sedang menontonnya. Padahal waktu itu aku sedang ada jam pelajaran tapi aku bolos dengan Alia, sebenarnya Alia tidak mau tapi ia terpaksa lantaran kasihan denganku yang terus merengek, entah kenpa tiba tiba Alia datang mendekati Anan yang sedang beristirahat dan dari kejauhan mngeluarkan HP, ternyata ia mendekati Anan hanya untuk meminta  no Whatsapp saja. Aku baru tahu ternyata Anan dan Alia lumayan deket mudah untuk saling lempar senyum padahal Anan tipe orang yang cuek dan aku tahu itu, makanya aku ragu untuk mengenalnya lebih dekat. Alia menyerahkan no Whatsapp pada ku agar aku bisa berhubungan laangsung lewat Whatsapp. Aku bingung aku takut dan aku malu tapi Alia merebut HP ku dan menyimpankan no Anan di Hp ku aku bingung antara marah dengan Alia atau aku bahagia. hampIr satu tahun aku mencintainya dalam diam selalu mengikuti medsosnya selalu tahu sedang ada kesibukan apa tapi aku tak pernah berani mendekatinya, jangankan mendekati mengirim pesan saja aku takut. No Whatsapp yang dulu Alia kasih bahkan aku belum mengirim pesan sama sekali. Alia sempat marah kenapa tidak dilakuin dari dulu. Waktu itu tanggal 08 agustus aku lupa tahun berapa salah satu aku medsos Anan menuliskan status “ in relathionship” seketika aku penasaran dan aku mencari tahu dengan siapa ia menjalin hubungan. Ternyata dia adalah teman dekat Alia, Sabrina. Alia tahu Anan dengan Sabrina sudah hampir sebulan tapi Alia tak pernah menceritakan apapun padauk. Sebulan yang lalu padahal aku selalu membahas tentang dia. Jujur aku nangis ingin sekali marah denga Alia tapi untuk apa? Melihat perjuangan Alia membantuku saja aku sudah senang. Pantas saja sebulaln yang lalu Alia ngebet agar aku mengirim pesan dengan Anan ternyata itu alasnnya agar aku tahu dengan sendirinya dari Anan.
Selama ini ternyata aku benar benar benar cinta dengan Anan tapi aku tak pernah berani mendekatinya ini sudah hampri dua tahun aku mencintai Anan dalam diam. Seumur hidupku aku tak pernah menajalin hubungan sepesial dengan siapa pun, aku hanya bsia menyukai seseorang yaitu Anan dalam diam. Aku selalu mencari tahu kabar anan lewat medsos medsosnya walapun disitu aku measakan sakit . kenapa bukan aku kenapa harus sabrina itulah yang ingin aku katakana pada Tuhan ketika di medsos mereka berdua mesra. Tapi tanggal 11 April ada yang beda dari status Sabrinia statusnya galau. Kutanyakan pada Alia ternyata  Anan putus dengan sabrina aku senang sekali, Karena aku sudah janji jika dia putus aku akan berusaha mendekatinya. Aku beranikan kurendahkan harga diriku hanya untuk Anan, bukan kah harusnya perempua tak sepantasnya mengejar laki laki tapi entah kenapa cinta membuatku bodoh dan rendah dimata orang lain. Aku mengirim pesan whatsapp ke Anan kukira akan mendapat balasan ramah ternyata balasannya adalah keangkuhan . aku serba salah saat itu kutanyakan Alia apakah seperti ini sikap Anan pada teman-teman ceweknya sekasar inikah. Alia menjelasakan dulu tidak saat aku chating dengan Anan. Aku syok kenapa Alia chating dengan Anan tapi tidak bilang pada ku dan ternyata Alia bilang pada Anan bahwa aku suka Anan. Pantas saja anan kelihatan marah di chatingan. Tapi entah kenapa aku tak bisa marah dengan  Alia dan Anan. Aku justru marah dengan sabrina kenapa harus buat anan kecewa dia yang kegatelan berusaha mendapatkan Anan setelah ia dapatkan ia tinggalkan entah kenapa segitu bencinya pada Sabrina.
Sekarang tanggal 21 April hari yang sangat bersejarah dan memberikan banyak kenangan bukan karena ini hari kartini lantaran siswi di SMA ku menggunakan kebaya tapi ini adalah farewell party atau pesta perpisahan bagi kelas 12. Hari ini mebuat semua kelas 12 bahagia jangankan kelas 12, kelas 10 dan 11 pun juga ikut merasakan bahagia bukan karena kita kelas 12 lulus semua tapi mungkin segala aktvitas belajar mengajar ditiadakan dan diacara ini banyak sekali hiburan bahkan band terkenalpun turut hadir bahagia.  Entah kenapa padahal hari ini  semua orang bahagia bahkan orang tua atau wali kelas 12 juga  bahgai tapi aku merasa aku tidak merasakan kebahagiaan seperti apa yang mereka rasakan. Dikeramaian aku merasa sepi rasanya ingin meneteskan air mata tapi kurasa tak seharusnya. Sedih ngga harus ditunjukin di depan umum. Aku selalu berfikir haruskah aku melepas semua rasa yang aku miliki haruskah rasa ini pupus walau saatnya bersemi, yang aku fikirkan hanya Anan. Saat itu Alia melihatku  menundukan muka dan masuk ketoliet, Alia masuk dan menanyakan kenapa tidak bergabung dengan yang lain di aula padahal band undangan lagi tampil. Aku hanya menggeleng dan berkaca-kaca tapi Alia tahu kenapa aku berkaca-kaca. Susah payah Alia membujuku dan akirnya aku  ikut bergabung lagi dengan yang lain. Saat aku jalan menuju aula ternyata ada Anan dan temannya lagi berkumpul dia juga tak masuk di aula. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan Anan, aku ahu itu pasti hanya leluconnya dengan temannya sampai sekarang aku inget Anan berkata “ serius nih ngga ada yang mau di omongin bentar lagi ngga bakal ketemu loh. Nanti nyesel” jarak 5 meter dari lokasi Anan aku mendengar entah kenapa aku berhenti begitu juga Alia dia mengikutiku berhenti rasanya ingin aku keluarkan semua yang ada dihati tapi mulut menolaknya. Alia menggandengku masuk meuju aula. Sesi terakir dari acara peripasahan sekolah foto-foto, rasanya aku ingin dengan mereka yang bisa foto bareng orang yang mereka sayanga, aku iri tapi untuk apa aku menangis taka da gunanya.
Sekarang 5 September pertama kalinya aku masuk kuliah setelah ospek selama 5 hari berturut-turut, aku melanjukan study ku ke universitas swasta, sebenarnya aku  diterima di universitas negeri tapi kedua orang tuaku yang membuatku harus memilih jalan lain, untuk pertama kalinya aku menentang kedua orang tuaku, aku muak mereka selalu meributkan masalah spele, dan dijadikan besar. Aku senang bisa menjadi mahasiswa tapi sayang tak ada aktifitas yang membuatku lupa dengan masalahku dan Anan. Anan selalu ada bahkan selalu ku ingat masih aku pantau semua akun medsosnya sangat disayangkan Anan tak lagi aktif di medsos seperti dulu ,aku sampai ingin tahu gimana kabarnya sekarang aktifitas apa yang sedang dilakukan.
Sekarang sudah satu tahun kelulusan tapi aku masih saja suka Anan entah kenapa ada Anan dan hanya Anan. Aku bahkan sudah pernah membuka pintu hatiku untuk orang lain ku kira aku bisa berhasil melupakannya ternyata hanya sebagian saja aku lupa tentangnya selebihnya aku masih suka bahkan cinta. Daripada aku menyakiti dirisendiri dan dia yang menyukaiku mendingan ku akhiri saja. Selain karena aku yang masih cinta ada alasan lain yaitu aku takut menjalin hubungan dengan orang tapi entah kenpa dengan Anan aku sangat mengharapkan, alasanya aku takut, karena hubungan tanpa ikatan mudah hancur  , yang sudah terikat saja bisa hancur apalagi tanpa ikatan, itu terjadi pada orang tuaku, dan itu salah satu penyebab aku sulit membuka hati. Keluargaku hancur  . Orang tuaku sudah tak sejalan lagi, mereka sering ribut sejak aku SMA kelas 11. Bahkan pada saat perpisahan sekolah orang tuaku tidak datang sama sekali bukan hanya karena Anan aku sedihpada saat farewell party tapi juga karena orang tuaku. Aku berusaha kuat menutupi semua luka dengan senyuman walapun akirnya aku gagal. Setidaknya temanku bahkan Alia tidak tahu. Aku ingin menunjukan pada semua orang tidak semua anak korban broken home menjadi anak yang bandal, nakal dan aku berhasil walaupun dimata orang lain.  Terimkasih Anan berkatmu aku belajar apa arti kuat, bersabar, menunggu. Aku juga belajar bahwa cinta tak harus memiliki. Mungkin cara Tuhan menjaga hatiku agar tak jatuh ditempat salah Tuhan ciptakan hatiku untuk tidak mudah membuka hati untuk orang lain, dan hatiku hanya untuk orang yang tepat buatku. Aku belajar dari cerita dalam novel bahwa bukan kita yang menemukan cinta tapi cinta yang akan menemukan kita dan aku kini melepaskanmu bahwa jika kita berjodah kita akan bertemu dengan carayang mengagumkan. Sungguh terimkasih buat kamu Anan selamanya aku tak akan melupakanmu dan terimkasih atas kebaikanmu Alia tanpamu aku tak akan bisa mendapatkan no whatsapp Anan dan telah menerima dengan ikhlas telingamu penuh dengan cerita Anan. Terimkasih juga buat orangatuaku kalian memang orang tua yang buruk mementingka ego masing masing tapi aku sungguh sangat cinta dan sayang   pada kalian lebih dari cintaku kepada Anan, Alia dan diriku sendiri. Semoga kalian bisa bahagia doa kan aku semoga aku juga bisa bahagia. segala luka dan kenangan buruk secepatnya hilang